VOICEINDONESIA.CO, Jakarta – Kesepakatan perdagangan bebas Indonesia dengan Uni Ekonomi Eurasia (EAEU) sejak akhir 2025 membuka peluang baru memperkuat kemitraan ekonomi dengan Kazakhstan. Kazakhstan merupakan anggota EAEU.
Direktur Jenderal Asia Pasifik dan Afrika Kementerian Luar Negeri (Kemlu) RI Santo Darmosumarto menyebut Indonesia dan Kazakhstan terus meningkatkan kemitraan politik, ekonomi, budaya, dan hubungan masyarakat sejak menjalin hubungan diplomatik pada 1993. Ia menyampaikannya dalam pertemuan ketiga Perhimpunan Persahabatan Kazakhstan-Indonesia di Jakarta, Rabu (28/10/2026).
“Indonesia melihat potensi besar untuk meningkatkan interaksi dengan Kazakhstan. Dalam dua tahun terakhir, hubungan bilateral kita terus mendapat momentum,” katanya.
Santo menjabarkan momentum itu. Pada pertengahan 2025, delegasi parlemen Indonesia yang dipimpin Ketua Komisi VIII DPR RI Marwan Dasopang berkunjung ke Kazakhstan untuk mendorong kerja sama antarparlemen.
Pada Mei 2026, kedua negara menggelar sidang Komisi Bersama untuk Kemitraan Ekonomi di Astana guna mengidentifikasi potensi baru kerja sama bilateral. Kunjungan Wakil Menteri Luar Negeri (Wamenlu) RI Anis Matta ke Kazakhstan pada Juni 2026 turut mendorong dialog dan kerja sama politik.
Santo menilai semakin intensifnya pertemuan pejabat tinggi kedua negara sebagai momentum positif yang tak boleh disia-siakan.
“Kita harus memanfaatkan momentum positif ini dengan memperkuat perdagangan, investasi, dan pariwisata, kemudian menjajaki peluang kerja sama baru di sektor energi dan sumber daya mineral, produk halal, kesehatan, dan ketahanan pangan,” tegasnya.
Santo mengingatkan pentingnya meningkatkan konektivitas kedua negara dan mendorong interaksi antarsektor swasta. Ia berharap kemitraan Indonesia-Kazakhstan berkembang berdasarkan prinsip kesetaraan, saling menghargai, dan kemakmuran bersama.























