Baca Juga : Konflik Iran–AS Memanas, Densus 88 Awasi 13.252 Target di Indonesia Gejolak di Bab El-Mandab akan mengganggu arus perdagangan global yang melewati Mesir. Harga barang secara global akan meningkat karena blokade akses ke Mesir dan membuat kapal harus memutari Afrika, yang berdampak pada kenaikan biaya logistik dan asuransi. "Bisa jadi, harga minyak global akan menyentuh di angka USD120 per barel sama seperti ketika Rusia melakukan invasi ke Ukraina," tegasnya. Kenaikan harga minyak mentah dan barang impor akan membengkakkan beban subsidi pemerintah terutama untuk BBM. Anggaran negara berpotensi jebol apabila tidak ada realokasi anggaran ke subsidi BBM, sementara mengandalkan penerimaan negara akan percuma ketika ekonomi global semakin tidak menentu. Nailul menambahkan mengandalkan utang baru pun susah karena ada laporan dari Moody's dan terbaru S&P yang mengatakan kondisi pengelolaan fiskal Indonesia buruk. Hal ini mempersulit ruang gerak pemerintah untuk menutupi defisit akibat membengkaknya subsidi energi. "Anggaran kita akan jebol apabila tidak ada realokasi anggaran ke subsidi BBM. Mengandalkan penerimaan negara pun akan percuma ketika ekonomi global semakin tidak menentu," katanya. Baca Juga : Bandara Ditutup, Ribuan Turis Terjebak di UEA Termasuk 36 WNI Bagi pengusaha, Nailul mengimbau untuk melakukan efisiensi guna menekan biaya perjalanan. Akan ada kenaikan harga freight karena biaya bensin membengkak, sementara biaya asuransi juga akan naik akibat ketidakpastian geopolitik di kawasan Timur Tengah. Bagi perusahaan yang bermain di ekspor-impor, kenaikan ini akan memberikan beban lebih kepada mereka. Jika tidak dikelola dengan baik, dampaknya akan buruk bagi pelaku usaha domestik yang berorientasi ekspor-impor. "Bagi perusahaan yang bermain di ekspor-impor, maka kenaikan ini akan memberikan beban lebih kepada mereka. Jika tidak dimanage dengan baik, dampaknya akan buruk ke pelaku usaha domestik yang berorientasi ekspor-impor," katanya. Harga impor akan naik dan bisa menyebabkan imported inflation yang pada akhirnya menekan daya beli masyarakat dan menghambat pertumbuhan ekonomi nasional. Kondisi ini diperparah dengan kondisi fiskal yang dinilai buruk oleh lembaga pemeringkat internasional. (Sin/Ri) Pilihan Redaksi : Berhenti Memanjakan “Scammer”, Saatnya Indonesia Meniru Ketegasan Korea Selatan
Baca Berita Lainnya di Google News


























