VOICEINDONESIA.CO, New York – Sugiono menegaskan akar masalahnya bukan pada Piagam PBB yang kehilangan relevansi, melainkan pada kebiasaan negara-negara besar yang menerapkan prinsip multilateralisme secara selektif sesuai kepentingan masing-masing.
"Indonesia menilai bahwa situasi di Palestina, khususnya di Gaza, menjadi cerminan nyata dari kegagalan komunitas internasional dalam menegakkan prinsip-prinsip tersebut secara adil dan konsisten," tegasnya dalam siaran pers Kemlu pada Rabu (27/5/2026).
Indonesia kembali menegaskan dukungan terhadap solusi dua negara sebagai jalan penyelesaian konflik Palestina dan Israel yang dinilai tetap menjadi opsi paling realistis sesuai hukum internasional dan resolusi PBB.
Sugiono juga menyoroti meningkatnya serangan terhadap pasukan perdamaian PBB di berbagai wilayah konflik. Indonesia memandang serangan semacam itu bukan hanya ancaman terhadap keselamatan personel, tetapi juga serangan langsung terhadap nilai-nilai multilateralisme yang selama ini menjadi fondasi tatanan dunia.
Isu hukum laut internasional turut disinggung, dengan peringatan agar jalur pelayaran global tidak dijadikan arena tawar-menawar politik antarnegara. Indonesia juga menyuarakan kekhawatiran soal ancaman baru dari kecerdasan buatan dan senjata otonom yang mulai mengubah wajah konflik modern, sekaligus mendorong reformasi DK PBB agar lebih representatif dan tidak lagi didominasi kelompok negara tertentu



























