VOICEINDONESIA.CO, Jakarta – Di tengah lebih dari satu juta lulusan perguruan tinggi yang menganggur, sejumlah kawasan industri seperti Batam justru kesulitan mencari tenaga kerja lokal dengan kualifikasi yang sesuai.
Kepala Biro Humas Kemnaker Faried Abdurrahman Nur Yuliono mengungkap investasi yang masuk ke kawasan industri padat teknologi membutuhkan kualifikasi sangat spesifik, sementara ketersediaan tenaga kerja lokal yang kompeten masih terbatas.
"Sektor yang paling merasakan tantangan ini adalah sektor industri padat teknologi. Di beberapa kawasan industri, seperti di Batam misalnya, investasi yang masuk membutuhkan kualifikasi yang sangat spesifik," kata Faried, Kamis (13/8/2026).
Kondisi ini membuat industri belum bisa menyerap tenaga kerja secara maksimal, meski di sisi lain jumlah pengangguran lulusan perguruan tinggi di Indonesia justru tercatat mencapai 1.033.182 orang per Mei 2026, atau sekitar 14,31 persen dari total 7,22 juta pengangguran nasional, berdasarkan data BPS.
Kepala Badan Perencanaan dan Pengembangan Ketenagakerjaan (Barenbang) Kemnaker Anwar Sanusi menyebut kesenjangan kompetensi atau skill mismatch menjadi faktor utama di balik tingginya angka pengangguran terdidik ini, ditambah rendahnya literasi digital dan soft skills di kalangan lulusan baru.
"Fenomena pengangguran lulusan perguruan tinggi disebabkan adanya mismatch antara kompetensi jabatan dengan keterampilan yang dimiliki, hingga rendahnya literasi digital dan soft skills," kata Anwar saat dihubungi di Jakarta, Kamis.
Anwar menambahkan pertumbuhan lapangan kerja formal yang lambat turut memperparah kondisi ini, sementara jumlah lulusan baru perguruan tinggi terus bertambah setiap tahunnya, ditambah preferensi lulusan yang cenderung menunggu pekerjaan formal tertentu alih-alih fleksibel mencari peluang lain.
Ia menilai perkembangan teknologi dan transformasi industri yang berlangsung cepat belum sepenuhnya diikuti sistem pendidikan dan pelatihan di Indonesia, sehingga banyak lulusan belum memiliki kompetensi yang benar-benar dibutuhkan pasar kerja saat ini.
Faried menambahkan keterbatasan pengalaman kerja, penguasaan soft skills, serta sertifikasi kompetensi turut menjadi faktor yang mempengaruhi rendahnya penyerapan tenaga kerja lulusan perguruan tinggi ke dunia industri.
Untuk mengatasi mismatch ini, Kemnaker menempuh sejumlah langkah, mulai dari penyelarasan kurikulum dengan kebutuhan kompetensi industri, penguatan keterlibatan industri dalam proses pembelajaran, hingga peningkatan kompetensi tenaga pendidik di berbagai satuan pendidikan.
"Selanjutnya, perluasan praktik kerja dan pengalaman industri bagi siswa, serta evaluasi secara berkala berdasarkan perkembangan kebutuhan tenaga kerja, sehingga lulusan memiliki kompetensi yang relevan dengan kebutuhan dunia kerja," ujarnya.



























