VOICEINDONESIA.CO, Jakarta – Kementerian Luar Negeri (Kemlu) RI terus memantau perkembangan kondisi 45 warga negara Indonesia (WNI) yang tercatat berada di Nepal pascabanjir bandang dan tanah longsor yang menewaskan sedikitnya 633 orang di wilayah perbatasan Nepal-Tibet.
Juru Bicara Kemlu RI Yvonne Mewengkang mengungkap upaya pemantauan tersebut dilakukan lewat komunikasi intensif dengan otoritas dan simpul masyarakat Indonesia setempat.
"Berdasarkan data KBRI Dhaka, terdapat sekitar 45 WNI yang tercatat berada di Nepal, dengan mayoritas berdomisili di Kathmandu. Hingga saat ini, dari upaya pemantauan dan komunikasi dengan pihak terkait setempat, belum terdapat laporan mengenai WNI yang terdampak," kata Yvonne kepada wartawan pada Minggu (30/8/2026).
Yvonne menegaskan langkah pemantauan ini dilakukan demi memastikan keberadaan dan keselamatan para WNI, sekaligus mempercepat langkah pelindungan apabila dibutuhkan.
"Untuk mendukung pemantauan dan langkah pelindungan, agen perjalanan yang memberangkatkan WNI ke Nepal juga diimbau untuk segera menyampaikan informasi kepada KBRI mengenai keberadaan dan kondisi WNI," ucapnya.
Kemlu turut mengimbau seluruh WNI yang melakukan perjalanan ke wilayah perbatasan Nepal-Tibet meningkatkan kewaspadaan, mengikuti arahan otoritas setempat, menghindari wilayah terdampak, dan memantau informasi lewat sumber resmi.
"Dalam kondisi darurat, WNI juga diimbau untuk menghubungi saluran hotline KBRI setempat," ujar Yvonne.
Otoritas Nepal dan China sebelumnya memperbarui jumlah korban tewas akibat bencana yang menerjang kawasan terpencil di Himalaya tersebut. Otoritas Pengurangan Risiko dan Penanggulangan Bencana Nasional Nepal, seperti dilansir AFP, mengungkap jumlah korban tewas di wilayah Nepal bertambah menjadi sedikitnya 626 orang hingga Sabtu (29/8/2026) pagi, dengan korban hilang mencapai 2.426 orang.
Otoritas Nepal menambahkan 933 pekerja pembangkit listrik tenaga air setempat ke dalam daftar orang hilang, yang sebelumnya telah mencakup para pendaki dan peziarah yang hendak menuju Gunung Kailash yang disucikan di Tibet. Angka korban hilang tersebut turut mencakup 517 warga negara asing (WNA) yang keberadaannya belum diketahui.
Secara terpisah, media pemerintah China yang menjadi satu-satunya sumber informasi untuk kondisi terkini di Tibet mengonfirmasi sedikitnya tujuh orang tewas akibat tanah longsor yang menerjang area Gyirong, dengan 554 orang lainnya dilaporkan masih hilang.
Dengan tambahan korban dari kedua wilayah tersebut, total jumlah korban tewas mencapai 633 orang, sementara total korban hilang di Nepal dan Tibet tercatat mencapai 2.980 orang.



























