VOICEINDONESIA.CO, Jakarta – Jepang tercatat sedang membutuhkan tenaga kerja dalam jumlah besar, dan Indonesia bersiap mengisi kebutuhan tersebut lewat skema pengiriman 100.000 WNI setiap tahunnya.
Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Stella Christie mengungkap kabar ini lewat unggahan TikTok pribadinya, mengutip informasi yang baru diterima dari Sekretaris Jenderal Kemendiktisaintek Prof Badri Munir Sukoco.
"Kita baru selesai rapat pimpinan dan ada berita baik yang saya dengar dari Pak Sekjen bahwa Jepang menawarkan kesempatan untuk bekerja untuk 100.000 orang Indonesia," ungkap Stella dalam video tersebut, dikutip Senin (10/8/2026).
Merespons tawaran ini, Menteri Diktisaintek Brian Yuliarto memerintahkan pembentukan satuan tugas khusus yang akan membawahi career center di berbagai perguruan tinggi Indonesia, guna menyiapkan kompetensi tenaga kerja yang dibutuhkan pasar kerja Jepang.
"Pak Menteri memerintahkan dibentuk satgas untuk para career center di universitas-universitas," ujar Stella.
Satgas ini nantinya akan merancang skema pelatihan agar lulusan perguruan tinggi Indonesia benar-benar siap dikirim dalam jumlah besar setiap tahunnya ke Jepang.
"Agar siap dikirim 100.000 orang per tahun ke Jepang," katanya.
Rencana ini melengkapi sejumlah program pengiriman tenaga kerja ke Jepang yang sudah berjalan lebih dulu, salah satunya Magang IM Japan besutan Kementerian Ketenagakerjaan yang telah diluncurkan sejak 1993 dan berhasil meluluskan 45.000 alumni hingga saat ini.
Program Magang IM Japan sendiri dirancang untuk meningkatkan kompetensi teknis peserta sesuai kejuruan atau jabatan yang diikuti, dengan Kemnaker menggandeng berbagai pemerintah daerah di Indonesia dalam proses pendaftarannya.
Selain Kemnaker, Kementerian Pelindungan Pekerja Migran Indonesia turut meluncurkan program SMK Go Global, yang mengirim lulusan berketerampilan khusus ke sejumlah negara tujuan, termasuk Jepang.
Pendaftaran SMK Go Global paruh kedua 2026 akan dibuka mulai 12 Agustus, khusus bagi mereka yang sudah memiliki keterampilan di bidang keperawatan, manufaktur, konstruksi, pengelasan, perhotelan, transportasi, dan pertanian.
Barulah tahun depan, KP2MI berencana membuka jalur pendaftaran bagi calon pekerja yang belum memiliki keterampilan tersebut, sehingga mereka akan dibimbing sepenuhnya dari nol sebelum diberangkatkan.






















