VOICEINDONESIA.CO, Jakarta – Minyak mentah Brent yang menjadi acuan global naik 2,45 persen menjadi 93,35 dolar AS per barel, sementara West Texas Intermediate menguat 2,8 persen ke level 89,78 dolar AS per barel. Lonjakan ini terjadi meski sebelumnya kedua pihak sudah menyepakati gencatan senjata yang diumumkan pada April lalu.
Pasar kini semakin khawatir dengan potensi bentrokan yang lebih luas antara Israel dan Hezbollah yang didukung Iran. Eskalasi ini juga meredam optimisme soal perpanjangan gencatan senjata AS dan Iran yang sebelumnya dinilai semakin dekat tercapai.
Goldman Sachs mempertahankan proyeksi harga Brent di level 90 dolar AS per barel untuk kuartal IV 2026, namun memperingatkan gangguan pasokan berkepanjangan dari Timur Tengah bisa mendorong harga jauh melampaui proyeksi itu. Di sisi lain, pelemahan permintaan dari China dan Eropa menjadi faktor penekan yang berpotensi memangkas konsumsi hingga 2 juta barel per hari dari perkiraan sebelumnya.
Untuk saat ini, sentimen geopolitik masih mendominasi arah pergerakan harga minyak global, mengalahkan faktor permintaan yang justru sedang melemah di dua kawasan ekonomi terbesar dunia tersebut.

















