VOICEINDONESIA.CO, Washington – Penolakan terbuka Netanyahu terhadap rencana 15 poin Dewan Perdamaian untuk Gaza ternyata tidak sepenuhnya mencerminkan sikap aslinya di balik layar. Pejabat Hamas meyakini Israel masih tetap bekerja sama dengan Dewan Perdamaian, bahkan Netanyahu dilaporkan sempat berjanji memberi kesempatan pada rencana tersebut lewat komunikasi telepon dengan utusan khusus Trump, Jared Kushner, pekan lalu.
Menurut laporan The New York Times, Netanyahu turut berjanji membatasi serangan terhadap Gaza agar proses demiliterisasi bisa segera dimulai, meski secara terbuka ia menyatakan skeptis terhadap rencana damai tersebut.
Pemerintahan Trump sendiri mengaku tidak mempermasalahkan sikap penolakan publik Netanyahu, dengan menilainya sebagai bagian dari kebutuhan politik domestik Israel yang tidak mengganggu substansi kerja sama di lapangan.
"Kami memahami kebutuhan politik Bibi. Kami tidak mempermasalahkannya selama dia terus melakukan apa yang kami minta, terutama terkait pembatasan serangan di Gaza," kata pejabat Gedung Putih, seperti dikutip Axios, Senin (10/8/2026).
Pada Minggu, Netanyahu memang secara resmi mengumumkan penolakan Israel terhadap rencana 15 poin tersebut, sembari menegaskan militer Israel tidak akan meninggalkan Gaza sebelum Hamas dilucuti sepenuhnya dari persenjataannya.
Kesepakatan tahap pertama rencana perdamaian yang diajukan Trump sendiri sebelumnya sudah disetujui Israel dan Hamas pada 9 Oktober 2025, dengan mediasi Mesir, Qatar, Amerika Serikat, dan Turkiye, sebelum gencatan senjata mulai berlaku sehari setelahnya.
Berdasarkan kesepakatan itu, pasukan Israel mundur ke wilayah yang disebut "garis kuning", meski Israel tetap mempertahankan kendali atas lebih dari 50 persen wilayah Jalur Gaza pasca-penarikan tersebut hingga saat ini.























