VOICE Indonesia
News

Gempa di Nagekeo Disebut Mirip Gempa Flores 1992, Seperti Apa?

Afifah - VOICEIndonesia.coEditor: Abdulloh Hilmi3 menit baca
VOICE Indonesia di Google
Ilustrasi peta
Ilustrasi peta NTT(Foto: dok./voiceindonesia.co/ist)

VOICEINDONESIA.CO, Bandung – Guru Besar Fakultas Ilmu dan Teknologi Kebumian (FITB) Institut Teknologi Bandung (ITB) Prof. Irwan Meilano mengingatkan masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan setelah gempa bumi bermagnitudo 7,7 mengguncang wilayah Nagekeo, Nusa Tenggara Timur (NTT), Sabtu (15/8/2026) pagi.

Irwan menilai gempa tersebut memiliki kemiripan dengan gempa Flores pada 1992, baik dari sisi lokasi maupun mekanismenya. Gempa dangkal yang terjadi di laut dengan kedalaman sekitar 15 kilometer itu berlokasi sekitar 30 kilometer timur laut Nagekeo.

Lokasi episentrum gempa terbaru tersebut juga berjarak kurang dari 40 kilometer dari pusat gempa Flores 1992 yang memiliki magnitudo 7,9 dan memicu tsunami besar.

"Apabila kita melihat dari mekanisme gempa serta lokasi gempa, maka gempa ini sangat berdekatan dan memiliki kemiripan dengan kejadian gempa di Flores pada tahun 1992," ujar Irwan di Bandung, Sabtu (15/8/2026).

Menurut Irwan, tsunami besar pada gempa Flores 1992 tidak hanya dipicu oleh guncangan gempa, tetapi juga longsor bawah laut. Karena itu, ia berharap gempa terbaru tidak diikuti oleh fenomena serupa.

"Waktu itu magnitudonya mencapai 7,9 dan diikuti dengan tsunami yang sangat tinggi. Kenapa? Karena diikuti dengan longsor di bawah laut sehingga tsunaminya tinggi. Mudah-mudahan dalam gempa ini tidak diikuti dengan longsoran bawah laut itu," katanya.

Gempa tersebut terjadi pada kawasan sumber gempa Flores Back-Arc Thrust atau sesar naik busur belakang Flores.

Struktur tersebut diketahui memiliki riwayat menghasilkan gempa kuat dan merusak, termasuk gempa bermagnitudo 6,6 pada 2009 serta rangkaian gempa di wilayah utara Lombok pada 2018.

Irwan mengatakan pola kejadian gempa Lombok 2018 berpotensi menjadi pembelajaran. Gempa utama dapat memicu aktivitas pada segmen sesar yang berdekatan sehingga kewaspadaan terhadap gempa susulan perlu dipertahankan.

Ia menyebut gempa susulan dengan magnitudo di atas 6 masih berpotensi menimbulkan kerusakan tambahan, terutama pada bangunan yang sebelumnya telah terdampak guncangan utama.

"Belajar dari gempa 2018 maka kewaspadaan itu tidak boleh berkurang. Sangat mungkin bahwa gempa ini kemudian memicu bagian segmen yang berdekatan. Gempa susulan di atas enam masih bisa memberikan dampak merusak yang cukup signifikan," ujarnya.

Irwan juga menyoroti potensi kerusakan infrastruktur akibat kombinasi magnitudo gempa yang besar, kedalaman yang relatif dangkal, lokasi episentrum yang dekat dengan permukiman, serta kondisi tanah dan kualitas bangunan yang dapat memperkuat guncangan.

Karena itu, ia mendorong pemerintah daerah dan tim tanggap darurat segera melakukan asesmen terhadap bangunan-bangunan strategis, terutama sekolah, fasilitas kesehatan, dan gedung pemerintahan.

"Kemungkinan besar gempa ini bisa mengakibatkan dampak kerusakan yang cukup signifikan pada infrastruktur strategis. Kami memberikan perhatian sangat serius terutama pada bangunan sekolah dan fasilitas kesehatan. Ini kita sangat berharap bisa recover dalam waktu yang singkat," kata Irwan.

Ringkasan AI

Gempa bermagnitudo 7,7 di Nagekeo, NTT, dianggap mirip dengan gempa Flores 1992 baik lokasi maupun mekanismenya, sehingga masyarakat diminta waspada terhadap gempa susulan. Potensi kerusakan infrastruktur strategis cukup besar, sehingga perlu asesmen cepat terutama pada sekolah dan fasilitas kesehatan.

Powered by Ajakin.id — AI Engine

Pilihan Redaksi

Pekerja Migran Juga Harus Rasakan Manfaat APBNPekerja Migran Indonesia

Pekerja Migran Juga Harus Rasakan Manfaat APBN

S Nurafifa· 15 August 2026
Lihat berita ini di Google News
Ikuti VOICE Indonesia di Google News untuk update terbaru
Channel WhatsApp
Dapatkan Berita VOICE Indonesia Langsung di WhatsApp
Follow

⚠️ Hati-hati penipuan! Jurnalis VOICEIndonesia.co tidak menerima imbalan dalam bertugas. Laporkan ke Redaksi VOICEIndonesia.co jika Anda menemukan kejadian tersebut. Hotline 0811-809-073 atau email redaksi@voiceindonesia.co.

Baca Juga

Komentar (0)

Login dulu untuk meninggalkan komentar.